Andre Rosiade Gerindra Sok Hebat, Menekan Ahok Supaya Pertamina Akuisisi BUMN Sakit

Redaksi
Andre Rosiade Gerindra Sok Hebat, Menekan Ahok Supaya Pertamina Akuisisi BUMN Sakit
Gedung Pertamina

Sikap sok hebat politisi Gerindra Andre Rosiade dari DPR Komisi VI yang terkesan telah mengintervensi Pertamina melalui Menteri BUMN Erick Tohir agar segera mengakuisisi PT Rekayasa Industri patut disesalkan aksi konyolnya itu.

Bisa jadi sikap sok hebat itu, karena dia sangat minim pemahaman atas kondisi kesehatan keuangan PT Rekayasa Industri (Rekind) yang merupakan anak usaha holding PT Pupuk Indonesia memang sejak lama sudah berdarah darah.

Selain itu, dia juga minim pemahaman bahwa Pertamina itu juga punya banyak beban penugasan dari pemerintah maupun beban akibat proses bisnis masa lalu yang membebani keuangan Pertamina jangka panjang, sehingga manajemen resiko Pertamina akan memberikan pertimbangan bagi Dewan Direksi dan Dewan Komisaris.

Pasalnya, hal itu diungkap Andre di dalam rapat dengar pendapat antara DPR RI Komisi VI dengan Menteri BUMN Erick Tohir pada hari Kamis 8/7/2021 di Senayan, yaitu dia mempertanyakan mengapa rencana akuisisi PT Rekayasa Industri oleh Pertamina sejak tahun 2018 hingga saat ini belum terealisasi.

Jadi sangat benar dan wajar jika Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina tidak mudah diintervensi, karena dia juga harus menjaga kepentingan Pertamina agar tetap eksis bisa melayani kepentingan orang banyak sekaligus Pertamina bisa memberikan kontribusi labanya bagi pemerintah, yaitu dengan menentang desskan bahwa Pertamina harus segera mengakuisisi PT Rekind, meskipun Kementerian BUMN telah meminta kepada Pertamina sejak tahun 2018 agar disinergikan.

Padahal, sinergi antar BUMN itu tak perlu harus dengan proses akuisisi, bisa juga strategi partner, karena Erick sebagai Meneg BUMN telah menerbitkan Peraturan Menteri BUMN nomor PER-07/MBU/IV/2021 yang merupakan perubahan kedua atas Peraturan Menteri BUMN nomor PER-03/MBU/08/2017 tentang Pedoman Kerja sama BUMN.

Sehingga, motif Andre patut dipertanyakan dengan mengeluarkan narasi prokatif bahwa "bagaimana perkembangannya Pak Menteri? Jadi jangan sampai kalah wibawanya Kementerian BUMN oleh satu orang Komisaris Pertamina," tegas Andre (Detikcom 9/7/2021).

Seharusnya dia baca dulu UU Perseroan terbatas, bahwa komisaris itu merupakan perpanjangan tangan pemegang saham  dalam perseoran untuk mengawasi pelaksanaan tugas direksi menjalankan roda perseroan sesuai AD Perseroan dan Keputusan RUPS in casu Pemerintah RI cq  Menteri BUMN.

Sebelumnya, pada 16 September 2020, Andre juga telah mendesak Presiden Jokowi dan Erick Tohir copot Ahok dari Pertamina. Apakah desakan itu karena ketidaktahuannya itu ?

Bahkan saat itu, Andre menuduh Pak Ahok ini bikin gaduh dan cenderung tanpa dasar bikin statemen. "Saya paham Pak Ahok butuh panggung, tapi tolong jangan menimbulkan citra negatif bagi Pertamina, jangan kebanyakan bacot." Kata Andre dengan vulgar, entah karena otaknya juga vulgar ". Bukankah bahasa itu dirumuskan di otak juga?

Dia juga menuduh pernyataan Ahok tanpa dasar, seperti Pertamina lebih suka blok migas di luar negeri daripada eksplorasi di  dalam negeri. (Kumparan 16/10/2020).

Ini juga hemat saya, karena Andre memang minim pemahamannya soal adanya  investasi participacing interest pada blok migas di luar negeri itu yang kental dengan masalah, termasuk ketidaksesuaian apa yang telah diinvetasikan dengan penerimaan yang diperoleh Pertamina dalam bentuk minyak mentah atau dalam bentuk penerimaan uang.

Andre mungkin sudah tidak mampu mengingat atau lupa, bahwa sosok Ahok itu adalah orang yang tidak menuhankan jabatan, maka bersikap keras dan tegas dia dalam membenahi proses bisnis di Pertamina. Dia bekerja semata mata hanya untuk kepentingan nasional, jauh dari kepentingan pribadinya.

Seharusnya Andre jangan lupa, meskipun resiko besar yang telah dan akan dihadapi Ahok, tetapi dia tidak akan perduli karena demi kebaikan Pertamina.

Sebaliknya, harus dipertanyakan apa motif Andre mendesak desak Pertamina mengakuisisi Rekin dengan hanya alasan ada proyek pembangunan kilang Olefin TPPI bernilai sekitar Rp 50 triliun itu kah ?.

Apa Andre tidak paham bahwa pelaksanaan proyek RDMP kilang Pertamina Balikpapan terseok seok jalannya, baru sekitar 35 % dari target harusnya sudah mencapai 70 % saat ini, bahkan sedang diaudit investigasi oleh BPKP karena ada kecurigaan adanya peningkatan nilai proyek melebihi 10 % dari nilai kontrak yang dari sudut pasal 53 dari Peraturan Presiden nomor 16 tahun 2018 tentang Pengadaan Barang Jasa telah terjadi pelanggarankah?

Tolong pahami saudara Andre, PT Rekind telah meninggalkan jejak buruk pada pelaksanaan proyek ROPP Kilang Balongan pada tahun 2008- 2012. Menurut temuan BPK RI akibat keterlambatan itu, Pertamina kehilangan pendapatannya USD 43,58 juta dari awal temuannya senilai USD 139,11 juta. Ironisnya sudahlah terlambat penyelesaian lebih setahun dari target, informasinya target produksinya pun hanya sekitar 60 % hingga 70 % dari kapasitas terpasang.

Oleh sebab itu, jika saya jadi ketua umum partai Gerinda, maka si Andre ini akan saya PAW-kan segera, karena menurut saya, dia lebih cocok sebagai pebisnis daripada wakil rakyat.

Jakarta 11 Juli 2021
Direktur Eksekutif CERI


Yusri Usman