Joint Study Kilang Dumai Telan 1 Juta Dolar

Pardosi
Joint Study Kilang Dumai Telan 1 Juta Dolar
Penandatanganan perjanjian studi bersama (joint study agreement) pengembangan Refinery Unit II, Dumai.

OFFSHORE Indonesia - PT Nindya Karya (Persero) bersama PT Pertamina (Persero) dan tiga perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) melaksanakan penandatanganan perjanjian studi bersama (joint study agreement) terkait pengembangan Refinery Unit II, Dumai.

Ketiga perusahaan Korsel tersebut adalah Lotte Engineering & Construction, KOREIT dan DH Global.
"Penandatanganan perjanjian ini merupakan tindak lanjut atas ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) dengan seluruh pihak untuk mendalami peluang kerja sama bisnis dalam bidang minyak dan gas di Indonesia terutama dalam lingkup pengembangan kilang Unit II, Dumai. Ruang lingkup perjanjian studi bersama tersebut meliputi aspek teknis dan bisnis," ujar Dirut Nindya Karya, Haidar A Karim, Jumat (25/6/2021), dalam penandatanganan perjanjian studi bersama yang dilakukan secara daring dan luring di Gedung Nindya, Jakarta.

Pada aspek teknis, perjanjian ini memuat kajian konfigurasi yang terdiri dari namun tidak terbatas pada peninjauan unit Residu Fluid Catalyc Cracking (RFCC) dan studi optimasi untuk memproduksi produk yang bernilai tinggi, melakukan kajian optimasi proses secara keseluruhan dan mempersiapkan milestone pelaksanaan Proyek RDMP Dumai.

"Sedangkan pada aspek bisnis, perjanjian studi bersama ini meliputi kajian model bisnis (termasuk skema pendanaan) dan skema bisnis yang optimal bagi para pihak, melakukan kajian kelayakan atas proyek RDMP Dumai, melakukan kajian studi pasar, serta melakukan pemetaan atas pihak–pihak lain yang dapat berkolaborasi untuk mendukung kelayakan proyek," lanjut Haidar.

Selain dihadiri oleh jajaran Direksi Nindya Karya dan CEO PT Kilang Pertamina Internasional, Joko Kirono, acara ini juga turut dihadiri oleh Basilio Dias Araujo selaku Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinasi Bidang Maritim dan Investasi. Serta direksi maupun perwakilan dari masing–masing perusahaan yang ikut dalam kegiatan penandatanganan ini.

Deputi Basilio menjelaskan, studi bersama proyek tersebut telah menelan investasi hingga US$1 juta atau sekitar Rp14,46 miliar (kurs Rp14.462). Investasi merupakan hasil patungan dari KPI, Nindya Karya, dan DH Global. 

"Pihak Korea Selatan, dalam hal ini DH Global, berani membuat komitmen kira-kira US$650.000, lalu sisanya US$350.000 itu akan dibagi antara Pertamina Kilang dan Nindya Karya," katanya.

Basilio menilai studi tersebut penting untuk meyakinkan investor masuk ke dalam proyek tersebut. Pasalnya, ujar Basilio, saat ini investor sedang menunggu hasil perdebatan terkait penggunaan energi terbarukan dan energi fosil.

Alhasil, hasil studi tersebut penting untuk memastikan investor mengingat estimasi investasi yang dapat terserap dari proyek revitalisasi kilang tersebut melebihi US$1 miliar. “Bagaimanapun migas masih tetap akan dipakai sampai 50 tahun ke depan. Walaupun akan ada energi baru terbarukan, tapi tidak bisa mensubstitusi seratus persen,” ucapnya. 

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero), proyek RDMP meliputi empat proyek yakni RDMP Refinery Unit (RU) V Balikpapan, RDMP RU IV Cilacap, RDMP RU VI Balongan, dan RDMP RU II Dumai, RDMP RU III Plaju. Sementara itu, pembangunan kilang minyak dan petrokimia (grass root refinery/GRR) meliputi GRR Tuban dan GRR Bontang.