Inovasi Mahasiswa Universitas Pertamina Dongkrak Produksi Sumur Migas

Pam
Inovasi Mahasiswa Universitas Pertamina Dongkrak Produksi Sumur Migas
Foto: Humas Universitas Pertamina

Offshore Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, tahun depan pemerintah menetapkan target produksi siap jual migas (lifting) minyak mentah di angka 660.000 barel per hari. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato pengantar RAPBN 2023 dan Nota Keuangan pada Rapat Paripurna di Gedung Paripurna DPR, beberapa waktu lalu.

Data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat, hingga akhir Semester I Tahun 2022, lifting minyak mentah tercatat sebesar 616.600 barel per hari. Capaian tersebut belum memenuhi target pada APBN 2022 sebesar 704.000 barel per hari.

Adalah Muhammad Athallah Naufal, Ike Yulianis, dan Elizabeth Bella Ruth, tiga mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Pertamina (UPER), yang mengajukan solusi perbaikan sumur minyak untuk meningkatkan laju alir migas dengan membuka jalan keluarnya fluida.

Solusi dari Athallah dan tim berhasil meraih dua juara sekaligus pada kategori Fracturing Fluid Design Competition di Ajang bergengsi Petroleum Integrated Days (Petrolida) 2022. Penghargaan yang diraih yakni Juara 1 dan Poster Terfavorit.

“Kami diminta menganalisa sumur Petra-05 yang memiliki kerusakan sangat parah. Kerusakan Skin factornya mencapai +70. Semakin besar nilai skin factor, maka semakin parah kerusakan reservoirnya. Sehingga, laju alir migas dari sumur tersebut hanya mencapai 0.21 Barrel Per Day (BPD),” jelas Athallah dalam wawancara daring, Kamis (08/09/2022).

Athallah menyebutkan, tim melakukan operasi perekahan batuan (fracturing fluid) untuk membuka rekahan dalam rangka meningkatkan permeabilitas reservoir. “Tim melakukan operasi hydraulic fracturing. Caranya, dengan memecahkan batuan untuk membuat jalur bukaan minyak bumi agar bisa mengalir, dengan menggunakan fluida perekahan,” tutur Athallah.

Fluida perekahan inovasi tim, terbukti mampu memperbaiki permeabilitas reservoir di sumur Petra-05. Sehingga, laju alir produksi minyak terdongkrak dari 0.21 BPD menjadi 42 BPD. Mereka juga mampu memperbaiki nilai skin factor dari +70 menjadi -5.

Tim Universitas Pertamina mampu menghasilkan fluida perekahan yang ramah lingkungan dan optimal secara harga. “Kami menggunakan fluida perekahan dari bahan ramah lingkungan, yaitu Carboxymethyl Hydroxypropyl Guar (CMHPG). Dengan komposisi yang yang sudah kami sesuaikan dengan masalah yang dihadapi oleh sumur terkait,” imbuh Elizabeth, anggota tim.

Sebagai informasi, Petrolida merupakan kompetisi tahunan di bidang energi dan perminyakan yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Student Chapter. Kompetisi berskala nasional ini bekerja sama dengan Pertamina EP Cepu – Zona 11.

Ike, anggota tim lainnya mengatakan, tantangan yang dihadapi anggota tim dalam mempersiapkan perlombaan cukup kompleks. “Dalam hal penghitungan nilai menggunakan software misalnya, hanya satu orang anggota tim yang menguasai. Sehingga, kami harus melakukan trial and error berkali-kali. Selain itu, kami juga harus mempelajari istilah dalam hydraulic fracturing lebih awal. Karena, Mata Kuliah yang membahas metode tersebut baru didapatkan setelah perlombaan dilaksanakan,” ujarnya.

Beruntung, berkat dukungan para dosen di Program Studi Teknik Perminyakan UPER dan profesional industri migas dari Schlumberger, Tim UPER berhasil mengungguli para finalis yang berasal dari universitas top nasional. Para finalis terdiri dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.

#UPER   #Universitas   #Pertamina   #