Negeri Kita Lagi Banyak Masalah, Tak Perlu Seret Masalah Israel - Palestina Jadi Masalah Kita

Redaksi
Negeri Kita Lagi Banyak Masalah, Tak Perlu Seret Masalah Israel - Palestina Jadi Masalah Kita
Foto: ist

OFFSHORE Indonesia - Hari - hari terakhir bangsa kita yang sedang banyak masalah ini tiba-tiba disibukkan dengan riuhnya masalah bangsa asing nun jauh disana, di negeri orang bernama Palestina. Konflik yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu yang tak berkesudahan bahkan sejak era nabi-nabi ditugaskan Allah untuk memberitakan kebaikan, kasih dan perdamaian bagi semua mahluk.

Konflik Palestina Israel ini kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang dengan membangun opini bahwa ini adalah konflik agama, perang antara Islam (Palestina) dengan Nasrani (Israel). Padahal ini bukan soal agama, tapi soal rebutan tanah, rebutan wilayah kekuasaan. Namun nikmatnya memanfaatkan isu agama untuk kepentingan tertentu menjadi mesin yang digunakan baik untuk mengeruk kepentingan uang maupun kepentingan politik. Lihatlah dan baca data berapa milyar dolar per tahun uang yang dinikmati oleh kedua belah pihak atas konflik ini. Dan berapa banyak uang dikeruk oleh kelompok-kelompok pemanfaat isu konflik agama.

Kita pun jadi ikut-ikutan latah memanfaatkan konflik bangsa asing ini jadi komoditas politik dalam negeri dan komoditas mencari uang oleh kelompok-kelompok tertentu. Bahkan pemerintah harus takluk dengan konflik wilayah berbalut agama ini. *Kita tiba-tiba melupakan konflik yang terjadi di negeri sendiri. Oposisi bodoh langsung berganti isu dari TKA Cina ke isu agama Palestina. Kaum penikmat uang konflik langsung menebar rekening dan kardus bermodal cetakan zakat sedekah untuk Palestina dengan tagline save Palestina.

Pemerintah pun tak mau menjadi sasaran dari hujatan oposisi yang bermain diranah politik identitas sehingga Presiden Jokowi pun tampak seperti lupa atau tidak tau kalau ada 4 warga bangsa yang kepalanya dipenggal oleh teroris di Poso. Ada prajurit yang tewas dan warga sipil dibunuh oleh KKB Papua. Dan masalah covid yang akan mungkin meledak pasca liburan lebaran. Ada masalah ekonomi yang masih morat marit meski terus tumbuh positif.

Mengapa kita jadikan konflik bangsa asing jadi komoditas utama di negeri ini? Bukankah posisi Indonesia sejak dulu jelas mendukung Palestina untuk merdeka? Bukankah sikap politik itu cukup? Mengapa kita harus jadi abai dengan masalah bangsa kita dan tiba-tiba mengurusi masalah bangsa asing? Ayolah...! Kita urus negeri kita dulu. Percuma kita teriak-teriak bela Palestina kalau negeri kita tak maju dan tak dihargai di kancah internasional. Kekuatan politik global adalah ekonomi yang maju, bukan teriakan-teriakan sumpah serapah dan jutaan kutukan yang tak membuat Israel terkutuk hingga kini.

Sekali lagi, saya mengajak kita untuk fokus pada masalah bangsa, masalah negeri ini yang sangat banyak. Jangan seret masalah bangsa asing jadi masalah utama bangsa ini. Dukungan kita terhadap kemerdekaan Palestina sudah jelas, teruskan saja itu dengan diplomasi di PBB. Dan terakhir, saya menuggu pernyataan Presiden atas korban 4 orang warga bangsa di poso yang dipenggal oleh teroris MIT. Akan kah ini kita biarkan? Abaikan atau tumpas? Monggo Pak Presiden sikapnya. (Ditulis: Ferdinand Hutahaean, Aktivis Sosial Politik, Pegiat Media Sosial, Jakarta, 16 Mei 2021)