Berawal Kertas Origami, Berujung Beasiswa Lestari

Ishak Pardosi
Berawal Kertas Origami, Berujung Beasiswa Lestari
Dwi Hastuti di Kediamannya

OFFSHORE Indonesia - Tidak ada kata pensiun bagi Dwi Hastuti. Kendati telah purna tugas sebagai guru pada 2012 silam, semangat Dwi memajukan pendidikan Indonesia terbukti belum padam. Menariknya, ketertarikan Dwi ke dunia pendidikan justru berawal dari origami, seni melipat kertas asal Jepang.

“Awalnya kita saling tukar telepon saja. Kemudian tiba-tiba saya dihubungi, “Bu, mau dikasih program nggak, ini ada anak UI yang mau membuat cinta membaca dan lagu anak-anak nasional setiap Sabtu. Saya pikir, ini bermanfaat untuk anak dan langsung saya bersedia,” ujar Dwi Hastuti kepada OFFSHORE Indonesia, Kamis (24/12/2020).

Dwi menerangkan, tidak berselang lama setelah program mahasiswa UI tersebut, ada lagi pihak yang menghubunginya untuk memfasilitasi pelatihan seni melipat kertas Origami. “Kebetulan anak saya juga mempunyai keahlian melipat kertas seperti itu, jadi deh. Dari situlah aktivitas mulai ramai di sini. Pasang surutnya ada, karena tidak semua warga setuju pada awalnya. Khawatir ada predikat udang di balik batu,” tandas Dwi.

Namun kekhawatiran warga perlahan sirna. Terutama setelah pihak PT Astra Intenational, Tbk mulai menyalurkan bantuan seperti tanaman dan pot bunga. Selain di sektor lingkungan, Astra juga memberikan perhatian pada aspek lain seperti kesehatan, pendidikan, dan UMKM. “Bantuan untuk Posyandu pun mulai mengalir seperti bantuan alat peraga kesehatan,” kata Dwi.

Namun yang paling membuat Dwi berbahagia adalah tawaran beasiswa kepada warga tempat tinggalnya yakni RW 16, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat. Dwi tak menduga tawaran beasiswa yang awalnya hanya terdiri dari tiga orang, kemudian bertambah hingga mencapai 33 orang.

“Bahkan, di tahun depan akan bertambah menjadi 36 orang. Program beasiswa itulah yang menjadi alasan lain kenapa saya tetap bertahan di KBA (Kampung Berseri Astra) Depok,” kata Dwi.

Sebagai mantan guru, kecintaan Dwi terhadap pendidikan sangat tinggi. Itu sebabnya, beasiswa yang disediakan Astra langsung ditanggapi serius oleh Dwi. “Pokoknya saya akan usahakan kalau ada bantuan beasiswa. Sudah begitu, lestari lagi, artinya dari SD hingga SMA. Namanya juga lestari harus utuh,” Dwi menguraikan.

Dwi mengakui kalau ia memiliki sifat yang terbuka, supel, dan gaul. Sifat positif itulah yang menjadi nilai plus kenapa sepak terjang Dwi semakin mendapat perhatian. “Sejak muda memang sudah begini aslinya. Senang ngobrol dan bertukar pikiran, juga hobi tanaman. Itu juga yang mungkin membuat banyak anak-anak betah,” Dwi menerangkan.