I am the Ocean, Sebuah Film untuk Majukan Masyarakat Pesisir

Pam
I am the Ocean, Sebuah Film untuk Majukan Masyarakat Pesisir
Akulah Samudera

OFFSHORE Indonesia - Film dokumenter “Akulah Samudera” (I am the Ocean) akan tayang di acara Indonesia Canada Congress pada saat perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun ini di Ottawa, Kanada.

Film “Akulah Samudera” bercerita tentang kisah Biru Maharani mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya, yang menjadi harapan bagi penggugah, pelestari, dan pelindung laut seperti birunya laut yang memberikan semangat hidup mengelola negeri ini.

Film yang diproduseri Dexandra Bayu dan Kirana Kejora dan disutradarai oleh Ara Dwi Sagara diproduksi bersama Direktorat Jasa Kelautan sebagai bentuk kepedulian untuk memajukan masyarakat pesisir, dan memberdayakannya, karena masyarakatlah yang memiliki dan harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Aryo Hanggono mengungkapkan film cerita pendek ini sengaja dibuat dalam versi drama dokumenter.

Pesan utamanya adalah penyadartahuan terhadap pentingnya ekosistem pesisir dan laut bagi masyarakat. Laut adalah sumber kehidupan, ekosistem adalah inti dari semuanya yang harus dijaga untuk keberlanjutan.

“Berbicara masalah pesisir dan laut, mau tidak mau akan mengulas potensi sumberdaya, masyarakat, dan permasalahan yang ada di dalamnya. Luas laut kita menguasai hampir 2/3 wilayah Indonesia," ungkap Aryo, di Jakarta, Minggu (12/7/2020).

Dengan garis pantai yang panjangnya mencapai 99.093 kilometer, potensi sumberdaya kelautan dan perikanan serta ekosistemnya tentu sangat berlimpah.

"Di sisi lain, pengelolaan sumberdaya pesisir belum memberikan manfaat yang berarti untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya, sementara keberadaannya semakin rentan. Kerentanan inilah yang diangkat dalam film cerita pendek berjudul Akulah Samudera," kata Aryo.

Kondisi pesisir yang semakin menurun dan degradasi ekosistem menjadi awal dari cerita Sang Biru untuk mengetahui sejarah Desa Kaliwilingi di Kabupaten Brebes dengan hutan mangrove yang sudah menjadi kawasan Ekowisata Desa Wisata Mangrove Sari. Desa wisata ini telah memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

Mangrove memiliki berbagai nilai dan manfaat, di antaranya sebagai pendukung dan habitat keanekaragaman hayati, serta sumber nafkah masyarakat. Mangrove sebagai peredam banjir, mencegah intrusi air laut ke darat, menstabilkan garis pantai dan kontrol erosi, menciptakan sabuk hijau di pesisir (coastal green belt) telah mengembalikan negeri masyarakat Pandansari, Kaliwilingi.

Sementara itu, Direktur Jasa Kelautan Miftahul Huda mengakui bahwa film ini mampu menggugah hati. “Pembelajaran seperti Pandansari ini, yang sedang dikembangkan oleh Direktorat Jasa Kelautan, Ditjen PRL, KKP," ujar Miftahul.

Lebih lanjut disebutkan Miftahul, "Kawasan ekosistem mangrove dan lainnya perlu dikelola secara optimal, selain ekosistem berfungsi sebagaimana mestinya, dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dari pemanfaatan jasa sumberdaya kelautan dan perikanan. Melalui program desa wisata bahari (Dewi) Mangrove Sari, kondisi kawasan pesisir dan masyarakat akan lebih terangkat menjadi lebih baik."

#Akulah   #Samudera   #I   #am   #the   #ocean   #