Menimbang Ahok Jadi Dirut Pertamina, Lebih Baik atau Justru Lebih Buruk?

doci
Menimbang Ahok Jadi Dirut Pertamina, Lebih Baik atau Justru Lebih Buruk?
Ahok/ist

Beredar kabar, Ahok yang saat ini menjabat Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero) bakal diangkat menjadi Dirut Pertamina. Kabar ini muncul seiring adanya rencana Kementerian BUMN untuk melakukan perombakan di jajaran direksi dan komisaris Pertamina.

Muncul pertanyaan, apakah Pertamina akan lebih baik atau justru lebih buruk seandainya Ahok diangkat sebagai Dirut Pertamina? Cukup sulit menjawabnya dari aspek pencapaian kinerja mengingat Ahok selama ini belum pernah berpengalaman di dunia migas. Namun harus diakui, kemampuan Ahok secara manajerial juga harus diakui telah tergolong mumpuni. 

Apalagi, Ahok yang sudah terlanjur dicap tegas dan keras diyakini akan dengan mudah membawa perubahan besar di tubuh Pertamina. Karakter keras Ahok dinilai tepat untuk mendobrak segala hal yang selama ini sulit ditembus. Paling tidak, begitulah penilaian Menteri BUMN Erick Thohir atas Ahok hingga mengangkatnya sebagai Komut Pertamina.

Masalahnya, memimpin Pertamina tidak cukup hanya mengandalkan jurus dobrak-mendobrak. Ada keunikan tersendiri yang dimiliki Pertamina. Salah satu standar utama yang wajib dimiliki seorang Dirut Pertamina, selain kompetensi mumpuni, adalah harus bisa diterima dan berkomunikasi dengan banyak pihak.

"Paling tidak bisa berkomunikasi dengan Kementerian ESDM, BUMN, Keuangan dan yang lebih unik bisa komunikasi dengan DPR," sebut Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (4/6/2020).

Apabila merujuk pernyataan Komaidi, jelas Ahok tidak memenuhi standar. Selama ini Ahok diketahui punya banyak ‘musuh’ di Senayan. Bahkan, politisi Gerindra Andre Rosiade menyebut Ahok sebagai Komut rasa Dirut karena dinilai terlalu sering tampil melebihi batas kewenangannya. 

Gerindra, sebagai salah satu parpol penguasa saat ini jelas akan berubah menjadi batu karang yang dengan lantang menghadang Ahok di Senayan. Maklum,  Gerindra adalah partai lama Ahok yang ditinggalkannya seolah tanpa pesan. Tampaknya, Gerindra sudah terlanjur sakit hati.

Sinyal penolakan terhadap Ahok juga sudah datang dari pentolan Partai Gelora Fahri Hamzah. Secara tak langsung, Fahri yang mantan politisi PKS ini menolak apabila Ahok diangkat jadi bos Pertamina. Caranya dengan mengaitkan peristiwa rasis di Amerika Serikat yang menewaskan seorang warga kulit hitam.

“Apa yang terjadi di Amerika (#GeorgeFloyd) #AmericanSpring (juni 2020) hampir sama dengan yang terjadi di #ArabSpring (Desember 2010) Mulai di Tunisia (#Bouazizi) juga dengan yang terjadi di Indonesia (#Aksi212) Desember 2016. Perbedaannya pada efek kerusuhan dan pergantian rezim,” ujar Fahri melalui Twitter, Minggu (7/6/2020).

Diketahui, Aksi 212 terjadi pada 2 Desember 2016. Peristiwa ini merupakan puncak gerakan massa yang dipicu oleh penistaan agama yang dilakukan Ahok saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Respons serupa juga datang dari Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin. Dia menegaskan jika Ahok diplot sebagai Dirut Pertamina, maka akan berdampak pada pelecehan bagi putra-putri terbaik di Indonesia.

"Posisi Ahok kalau menjadi Dirut sekalipun adalah bentuk pelecehan terhadap putra putri bangsa Indonesia karena banyak putra-putri Indonesia yang sangat berprestasi dan profesional di bidangnya serta punya martabat dan berakhlak,” tegas Novel pada Selasa (9/6/2020).

Novel menuding Ahok hanyalah produk gagal yang sengaja dibuat menjadi uji coba dalam memimpin perusahaan pelat merah tersebut.

"Sedang Ahok adalah produk gagal malah dikasih uji coba dengan mengelola aset bangsa yang sangat berhubungan dengan hajat orang banyak dan vital. Sungguh sudah krisis kepemimpinan negara ini," ujarnya.

Sebelum berbagai penolakan yang bersifat non teknis tersebut itu bermunculan, Menteri Erick pun tampaknya sudah lebih dulu membaca situasi lalu langsung menjaga jarak. Sikap jaga jarak itu terlihat dari tanggapan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga yang menegaskan kalau nama Ahok belum ada di kantong Menteri Erick.

"Perombakannya tunggu saja. Nggak banyaklah. Ada sedikit-sedikit kalaupun ada. Lihat saja nanti. Sampai hari ini kita belum ada masuk nama Pak Ahok sebagai eksekutif di Pertamina," tegas Arya usai mendampingi Menteri BUMN Erick Thohir melakukan kunjungan ke Posko Masak Satgas COVID-19, Jakarta, Sabtu (6/6/2020).

Sejauh ini bisa ditarik kesimpulan bahwa Ahok mustahil diangkat sebagai Dirut Pertamina. Pertimbangannya jelas, Ahok hanya akan mendatangkan kegaduhan politik yang baru, alih-alih membawa Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia. Bukannya lebih baik, Pertamina di tangan Ahok sangat berpotensi berubah menjadi lebih buruk.

#ahok   #pertamina   #dirut   #komut   #gerindra