Saat Pertamina Digoyang Isu Kelas Dunia, Sinyal Ganti Dirut?

doci
Saat Pertamina Digoyang Isu Kelas Dunia, Sinyal Ganti Dirut?
Dirut Pertamina Nicke Widyawati/ist

Menghadapi era ketidakpastian di industri migas dunia, sejumlah kalangan menilai PT Pertamina (Persero) membutuhkan pemimpin baru yang mempunyai kompetensi mumpuni. Apakah ini berarti kursi Dirut Pertamina Nicke Widyawati sudah mulai digoyang?

"Permasalahannya kelas dunia, untuk itu perlu leader di Pertamina yang bisa melihat teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasinya. Leader-nya memang perlu mengetahui politik, tapi juga harus menguasai teknologi yang dibutuhkan," kata Tutuka Ariadji, Guru Besar Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (4/6/2020).

Ia mengatakan, saat ini Pertamina punya peran penting di sektor hulu migas nasional. Apalagi, pada 2021 akan mengelola Blok Rokan, kontributor produksi nomor dua terbesar minyak nasional setelah Blok Cepu. Pertamina akan menghadapi permasalahan teknis kelas dunia seiring masuknya Blok Rokan. Pasalnya, Lapangan Minas di Blok Rokan memiliki permasalahan teknis kelas dunia.

Tutuka menegaskan, pimpinan yang dibutuhkan Pertamina adalah yang bisa membawanya menjadi perusahaan kelas dunia karena masalah yang dihadapi juga kelas dunia.

"Kalau dari sisi manusia Indonesia saya yakin punya reputasi yang baik, sekarang masalahnya di manajemen," kata Tutuka.

Sementara itu, Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menambahkan, Pertamina membutuhkan sosok yang unik, tidak hanya pintar tapi juga mengerti. Salah satu standar utama adalah kompetensi yang mumpuni dan harus bisa diterima dan berkomunikasi dengan banyak pihak.

"Paling tidak bisa berkomunikasi dengan Kementerian ESDM, BUMN, Keuangan dan yang lebih unik bisa komunikasi dengan DPR," kata Komaidi.

Menurut Julius Wiranto, Deputi Operasi SKK Migas, pimpinan di hulu migas termasuk di Pertamina, tidak hanya harus mengerti soal teknis, tapi juga kemampuan adaptif dalam suatu kasus. Tidak hanya mementingkan sektor saja, tapi harus melihat lebih luas lagi. 

"Butuh sosok yang bisa melihat jangka panjang. Lebih makro akan lebih survive. Jadi harus mempunyai kemampuan prediksi ke depan," katanya.

Menurut Julius, Pertamina memiliki banyak anak usahanya, yang sebagian pimpinannya akan memasuki masa pensiun. Namun usia pensiun tidak berarti tidak produktif lagi.

"Kita harusnya trust pada next generation. Itu yang diperlukan ke depan. Yang masuk masa pensiun itu tetap dibutuhkan, khususnya dalam memberikan saran-saran," kata Julius.

Dia menambahkan Pertamina merupakan perusahaan besar dan BUMN. Semakin tinggi posisi, CEO atau direksi harus punya wawasan yang lebih luas, tidak hanya teknis saja. Karena mau tidak mau berhubungan dengan nonteknis.

"Idealisme yang kuat di teknis bisa terkalahkan dengan soal lain. Untuk itu harus berani. Pertamina itu pelat merah, kalau terlalu idealis, bisa mati juga. Jadi leader di Pertamina tidak hanya harus pintar, tapi pintar-pintar," kata Julius.

Seperti diketahui, Kementerian BUMN merencanakan RUPS Pertamina yang hingga kini belum terang kepastiannya, kendati pernah disebut-sebut akan digelar pada 10 Juni 2020. 

Selain itu, beberapa dirut anak usaha hulu Pertamina akan memasuki pensiun yaitu Dirut PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso, dan Direktur Utama PT Pertamina International EP Deni S Tampubolon. 

Sementara Direktur Utama PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf telah pensiun per 22 Mei 2020.